Bergengsinya Pekerja Pabrik Ciki


SELAIN krupuk mlarat, klitik (bahan baku jagung), dan beragam dodol, kawasan home industry Weru terkenal pula dengan makanan ringan ciki. Makanan ringan dari bahan baku tepung tapioka, tepung jagung, pewarna, dan penyedap rasa ini menjadi pilihan para pedagang makanan ringan. Masalahnya, ciki buatan Weru harganya bervariasi mulai harga Rp 100,00 sampai Rp 1.000,00. Harga yang sangat murah untuk jajanan anak-anak.

Meski dikelola secara home industry seperti usaha lain di kawasan ini, masyarakat sekitar yang bekerja di home industry makanan ringan ciki, kerap menyebut bekerja di pabrik ciki.

Tentu saja sebutan "pabrik" sebatas sebutan dari masyarakat sekitar. Kenyataannya, fasilitas home industry ciki Weru tidak beda dengan pemilik home industry lainnya. Baik dari sarana, upah karyawan, maupun teknologi yang dipakai, bukanlah teknologi industri seperti pabrik besar lainnya.

Teknologi industri yang dipakai di pabrik ciki Weru hanya mesin sederhana yang dirakit manual. Bicara soal higienis, rasanya perlu penelitian yang lebih mendalam. Pasalnya, baik ruang produksi maupun pengepakan merupakan ruang-ruang biasa yang awalnya hanya garasi atau rumah mukim. Selain itu, tidak ada aturan bagi buruh untuk menggunakan pakaian khusus saat bekerja.

Sekalipun demikian, khusus untuk kawasan Weru, mereka yang bisa bekerja di pabrik ciki dianggap bergengsi, sekalipun upah yang diterima hanya berkisar Rp 7.500,00 sampai Rp 15.000,00 per hari.

Kisaran upah itu bergantung kepada jenis pekerjaannya. Tukang ngepak sebutan untuk buruh yang mengemas, per hari Rp 7.500,00. Biasanya upah diberikan setiap hari Sabtu. Sedangkan upah bagi operator mesin dan pengaduk adonan antara Rp 12.500,00 sampai Rp 15.000,00 per hari.

"Upah sebesar itu bagi kami sudah cukup, karena pabrik ciki sangat dekat dengan rumah. Kalau istirahat, pulang dulu dan makan di rumah. Jadi saat gajian bisa utuh. Tidak perlu berpikir untuk menyisihkan uang transpor," kata Sutini yang mengaku sudah bekerja selama tiga tahun di pabrik ciki dekat rumahnya.

Hal senada disampaikan Ratminah, bahkan pemilik pabrik memperbolehkan ia membawa anak saat bekerja. "Enaknya, bekerja di pabrik ciki aturannya tidak ketat bisa sambil momong anak, yang penting saat kita mengepak barang, anak tidak mengganggu. Soal pakaian juga tidak dipermasalahkan, berangkat kerja pakai sandal jepit juga oke-oke saja."

Uniknya meski mereka menyebutnya pabrik ciki, produk yang dihasilkan bukanlah melulu dalam bentuk makanan ringan bulat dan bersari rasa keju (seperti Chiki-dari produk nasional). Bentuk dan ukuran produk pabrik ciki Weru sangat bervariasi, begitu juga cita rasanya, ada rasa stroberi, nanas, pandan, kelapa, dan beragam rasa lainnya.

Variasi rasa dan bentuk inilah yang menyebabkan makanan ringan ini sangat disukai anak-anak. Selain itu, pemilik pabrik biasanya berkreasi dengan memasukkan beragam hadiah ke dalam kemasan. Bisa dalam bentuk mainan anak-anak yang ukurannya kecil. Bisa juga uang tunai yang dibungkus plastik. Padahal harganya hanya Rp 500,00 per bungkus. Sungguh menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Selain berharga murah, mereka kerap membelinya berulang-ulang karena penasaran ingin mendapatkan hadiah.

Mengenai pemasarannya, hampir seluruh home industry di kawasan Weru, memercayakan penyebaran produk ke kios-kios di Pasar Kue Weru. Pasar yang beroperasi sejak pagi sampai sekitar pukul 16.00 WIB ini menjadikan hampir seluruh produk dari home industry Weru melanglang ke wilayah di luar Jawa Barat. Setidaknya transaksi dari hampir setiap toko yang mencapai angka rata-rata Rp 5.000.000,00 per hari per toko mencerminkan betapa kue-kue dan olahan dari Kecamatan Weru sangat diminati masyarakat.(Suherlan/"PR")***

Sat, 13 Feb 2010 @21:41


1 Komentar
image

Thu, 29 Apr 2010 @13:12

ari ganda

Mohon info alamat lengkat home industri ciki di weru.

thanks

ari


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 5+8+4